Workshop Penghitungan Unit Cost (UC) Rumah Sakit dengan Methode Double Distribution

Memuat Events

« Semua Event

Workshop Penghitungan Unit Cost (UC) Rumah Sakit dengan Methode Double Distribution

Juli 25 @ 2:00 am - Juli 27 @ 11:00 am

Salah satu persoalan yang paling sering dikeluhkan oleh manajemen rumah sakit yang menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah besarnya deviasi atau perbedaan tarif paket INA-CBGs dengan total Tagihan (billing) berdasarkan tarif rumah sakit. Disparitas tarif dalam konteks defisit ini selalu menimbulkan pertanyaan, apakah tarif INA-CBGs yang terlalu kecil atau tarif rumah sakit yang terlalu besar. Tidak jarang anggapan tarif INA-CBGs yang terlalu kecil ini menjadi salah satu penyebab komplain dari jajaran manajemen rumah sakit dan timbulnya resistensi khususnya di kalangan dokter di rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada pasien peserta program JKN oleh BPJS Kesehatan.

Ada kesalahan konsep berfikir ketika yang menjadi acuan kendali biaya di rumah sakit adalah terminologi “surplus” atau “defisit” pendapatan rumah sakit saat disandingkan antara tarif INA CBGs dengan tarif rumah sakit. Mungkin banyak yang merasa masih tabu bahwa rumah sakit berbicara untung atau rugi dan surplus atau defisit, maka kita menggunakan istilah SELISIH JAMINAN yaitu perbedaan atau selisih nilai antara tarif INA CBGs dengan total tagihan menggunakan hitungan tarif rumah sakit. Sehingga dikenal istilah Selisih Jaminan Lebih (SJL) untuk menggantikan istilah surplus atau untung dimana tarif INA CBGs masih lebih besar dibandingkan dengan total tagihan menggunakan hitungan tarif rumah sakit. Sebaliknya, dikenal juga istilah Selisih Jaminan Kurang (SJK) untuk menggantikan istilah defisit atau rugo ketika tarif INA CBGs lebih kecil dibandingkan dengan total tagihan menggunakan hitungan tarif rumah sakit.

Salah kaprah pemikiran yang terjadi adalah ketika ada kebanggaan yang semu ketika rumah sakit berhasil “surplus” yang berarti pendapatan rumah sakit berdasarkan pembayaran tarif INA CBGs masih lebih besar dibandingkan dengan tarif rumah sakit. Anehnya, meskipun laporan keuangan menunjukkan surplus namun ketika proses penyusunan anggaran atau RBA rumah sakit ternyata potensi pendapatan tidak cukup untuk membiayai seluruh belanja.

Nah apakah yang terjadi ? Ternyata surplus “semu” itulah yang menjadi penyebabnya. Surplus semu adalah seolah-olah surplus padahal sebenarnya adalah defisit. Hal ini bisa terjadi karena ternyata tarif rumah sakit yang menjadi sandingan atau perbandingan dengan tarif INA CBGs sudah sangat tidak layak dan sudah tidak sesuai dengan nilai ke-ekonomisan saat ini atau secara real actual cost. Sebuah rumah sakit misalnya ternyata belum melakukan pembaharuan tarif sejak 5 tahun yang lalu dimana tarif pemeriksaan dokter di klinik spesialis masih Rp 15.000,00 (Lima Belas Ribu Rupiah) tentu sangat logis ketika disandingkan dengan tarif INA CBGs masih bisa surplus. Pertanyaanya, apakah nilai sebesar itu masih layak dipergunakan pada saat ini dengan mempertimbangkan inflasi, kenaikan harga-harga kebutuhan, penurunan nilai tukar rupiah dan kondisi ke-ekonomisal lainnya ? Tentu saja sudah tidak layak, hal inilah yang menyebabkan surplus semu sehingga meskipun surplus namun tidak pernah cukup untuk membiayai anggaran belanja rumah sakit. Sebuah kondisi yang ironis dan harus dilakukan perubahan mindset para jajaran direksi rumah sakit.

Harus diingat bahwa sesuai dengan ketentuan peratruan perundang-undangan bahwasanya tarif INA CBGs harus dilakukan peninjauan kembali dan diubah jika perlu paling lambat 2 (dua) tahun. Selain itu jika kita flashback ke belakang, maka tarif INA CBGs yang saat ini adalah berdasarkan Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan sesuai dengan PMK Nomor 64 Tahun 2016 Tanggal 23 November 2016 merupakan perubahan dari PMK Nomor 52 Tahun 2016 Tanggal 26 Oktober 2016. Artinya bahwa terjadi perubahan yang bahkan tidak sampai 1 bulan dan ternyata perubahannya sangat drastis, sehingga bisa kita namakan ini adalah tragedi tarif INA CBGs. Maka menjadi wajar dan sah-sah saja ketika sebagian dari kita beranggapan bahwa tarif INA CBGs yang saat ini dipergunakan bukanlah tarif hasil hitungan matematis ataupun analitis empiris, namun lebih ke arah tarif politis.

Nah bisa kita simpulkan bahwa tingginya tarif rumah sakit bukanlah satu-satunya penyebab utama terjadinya defisit, sehingga solusi dengan merubah atau menurunkan tarif merupakan langkah yang tidak memiliki dasar. Jadi kecenderungan menyalahkan tarif rumah sakit yang dinilai terlalu tinggi juga tidaklah bijaksana. Terjadinya defisit dipengaruhi oleh banyak faktor dan tarif rumah sakit hanyalah salah satu faktor saja.

MENGHITUNG UNIT COST DENGAN METODE DOUBLE DISTRIBUTION

Dalam teori ekonomi layanan kesehatan, secara garis besar terdapat 3 metode dalam melakukan analisis biaya dan perhitungan Unit Cost, yaitu :

  1. Metode Top Down : Simple Distribution, Step-Down, Double Distribution (DD) dan Multiple Distribution.
  2. Metode Bottom Up : Activity Based Costing (ABC)
  3. Metode Hybrid : Campuran antara metode ABC dan metode Double Distribution.

Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) ini akan mengulas salah satu metode penghitungan Unit Cost yang sangat populer yaitu metode Distribusi Ganda atau Double Distribution (DD). Selain itu juga akan dibahas bagaimana mengolah data Unit Cost tersebut sampai menjadi tarif rumah sakit dengan menggunakan pendekatan kebijakan pentarifan (pricing policy) dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Metode Distribusi Ganda atau Double Distribution adalah metode pembebanan biaya 2 langkah yaitu ke sesama unit penunjang, lalu ke unit produksi. Dalam metode ini, pada tahap pertama dilakukan distribusi biaya asli dari unit penunjang tertentu ke unit penunjang lain dan unit produksi. Hasilnya, sebagian unit penunjang sudah didistribusikan ke unit produksi, akan tetapi sebagian masih berada di unit penunjang. Artinya, ada biaya yang tertinggal di unit penunjang, yaitu biaya yang diterimanya dari unit penunjang lain. Biaya yang masih berada di unit penunjang ini dalam tahap selanjutnya atau tahap kedua akan didistribusikan ke unit produksi, sehingga tidak ada lagi biaya yang tersisa di unit penunjang. Karena metode ini dilakukan dua kali distribusi biaya, maka metode ini dinamakan metode distribusi ganda atau double distribution.

Kelebihan metode ini sudah dilakukan distribusi dari unit penunjang ke unit penunjang lain dan sudah terjadi hubungan timbal balik antara unit penunjang dengan unit penunjang lain secara fungsional. Metode ini merupakan metode yang terpilih untuk analisis biaya di puskesmas  maupun rumah sakit di Indonesia.

Kegiatan penghitungan Unit Cost dengan metode distribusi ganda atau double distribution akan melakukan penghitungan unit cost rumah sakit yang berada pada unit penunjang medik dan unit pelayanan medik. Yang termasuk unit penunjang medik adalah Instalasi Laboratorium, Radiologi, Bedah Sentral (OK), Kamar Bersalin (VK), Rehabilitasi Medik, Hemodialisa dan lain-lain. Sedangkan unit pelayanan medik dibagi menjadi 2 (dua) yaitu Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap. Instalasi Rawat Jalan terdiri dari beberapa klinik yang disebut dengan Poliklinik, seperti Klinik Penyakit Dalam, Klinik Anak, Klinik Bedah, Klinik Obgyn dan lain-lain. Sedangkan Instalasi Rawat Inap terdiri dari beberapa ruangan seperti Ruang Rawat Penyakit Dalam, Ruang Rawat Anak, Ruang Rawat Bedah, Ruang Rawat Obgyn dan lain-lain.

Prinsip penghitungan Unit Cost metode distribusi ganda atau double distribution (DD) adalah memindahkan biaya yang timbul di unit-unit non penghasil (Non Revenue Centre) ke unit penghasil (Revenue Centre) secara bertahap sehingga biaya yang timbul di unit non revenue centre menjadi habis atau menjadi nol karena telah berpindah semuanya ke unit penghasil atau revenue centre. Pemindahan berlangsung 2 kali, yang pertama dari unit non penghasil ke sesama unit non penghasil dan ke unit penghasil. Lalu pemindahan kedua dari unit non penghasil ke unit penghasil.

Download Undangan dan TOR Unit Cost ProQua Juli 2019

Workshop Penghitungan Unit Cost (UC) Rumah Sakit dengan Methode Double Distribution

Kolom bertanda * wajib diisi.

Detil

Mulai:
Juli 25 @ 2:00 am
End:
Juli 27 @ 11:00 am

Penyelenggara

ProQua Consulting
Telepon:
081329599189
Email
Situs Web:
proquaconsulting.com

Venue

Hotel Rivoli Jakarta
Jl. Kramat Raya No. 41 Kramat, Senen, Jakarta Pusat, DKI Jakarta Indonesia
+ Google Map
Telepon:
021-21393300

Butuh bantuan? Silahkan hubungi kami. Kami mendengarkan anda!

← Prev Step

Terima kasih telah meninggalkan pesan. Kami akan segera membalas pesan anda.

Please provide a valid name, email, and question.

Powered by LivelyChat
Powered by LivelyChat Delete History